Sertailah Perjuangan Kami!

Saturday, 29 October 2011

AMALAN YANG DISYARI’ATKAN PADA BULAN DZULHIJJAH

 
1. Shalat
Disunnahkan untuk bersegera dalam melaksanakan hal-hal yang wajib dan memperbanyak amalan-amalan sunnah. Telah diriwayatkan dari Tsauban radhiallahu anhu, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Hendaklah kamu memperbanyak sujud untuk Allah. Karena kamu tidak bersujud kepada Allah sebanyak satu kali sujud kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan Allah akan menghapuskan darimu satu kesalahan.” (HR. Muslim)

2. Melaksanakan Haji dan ‘Umrah
Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, salah satunya adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yg dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga.” (HR. Muslim)

3. Berpuasa Terutama Pada Hari ‘Arafah
Puasa adalah jenis amalan yang paling utama dan dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadits qudsi, ertinya:
Puasa itu adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.”

Diriwayatkan dai Abu Said Al Khudri radhiallahu anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Berpuasa pada hari ‘Arafah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR. Muslim)
4. Takbir, Tahlil dan Tahmid Serta Dzikir
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“…dan agar mereka menyebutkan nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” (QS. Al Hajj:28)
Para ahli tafsir menafsiri bahwa yang dimaksud dengan “hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma yang artinya, maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid.”(HR. Ahmad)
Bentuk Takbir
Telah diriwayatkan tentang bentuk-bentuk takbir yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabi’in diantaranya:
a. Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar kabiraa
b. Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamdu.
c. Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, wa lillaahil hamdu.

5. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat dan Dosa, Sehingga Akan Mendapatkan Ampunan dan Rahmat Allah Ta’ala.
Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba Allah Ta’ala dan ketaatan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah Ta’ala kepadanya. disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakal seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Banyak Beramal Shalih
Memperbanyak amalan-amalan shalih berupa ibadah sunnah seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Amalan yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah utama. Sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

7. Berkorban Pada Hari Raya Qurban dan Hari-Hari Tasyriq
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yakni ketika Allah menebus putranya dengan sembelihan yang agung dan juga sunnah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Tentang keutamaan hari raya kurban , telah di jelaskan diatas dalam pasal ketiga (keutamaan yaumul Nahr) keutamaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah.

8. Melaksanakan Shalat Idul Adh-ha dan Mendengarkan Khutbahnya
Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyari’atkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti: nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukkan dan sejenisnya. Dimana hal tersebut akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukannya selama sepuluh hari. Tentang keutamaan hari ini , telah dijelaskan sebagiannya diatas.
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

                                                                                        ASNI HITA

dalil tentang aurat wanita



DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENYAYANG LAGI MAHA PEMURAH


Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Leher dan rambutnya adalah aurat di hadapan lelaki ajnabi (bukan mahram) walaupun sehelai. Pendek kata, dari hujung rambut sampai hujung kaki kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup. Hal ini berlandaskan firman Allah Subhanahu wa Taala, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya” [An Nur:31].

Aurat Wanita dalam Hayaatul ‘Am (Kehidupan Umum/Public Life) 


hayaatul ‘am adalah keadaan di mana wanita itu berada di luar dari kawasan rumahnya di mana mereka bercampur dengan masyarakat. Pakaian wanita dalam kehidupan umum iaitu di luar rumahnya terdiri dari dua jenis iaitu :
  • libaas asfal (baju bawah) yang disebut dengan jilbab, dan;
  • libaas ‘ala (baju atas) iaitu khimar (tudung).
Dengan dua pakaian inilah seseorang wanita itu boleh berada dalam kehidupan umum seperti di jalanan, di pasar-pasar, pasar raya, kampus, taman-taman, dewan orang ramai dan seumpamanya. 
Dalil wajib memakai jilbab bagi wanita adalah berdasarkan firman Allah, “Wahai Nabi! katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka melebarkan jilbabnya” [Al Ahzab:59]. 

Berdasarkan pengertian ini, jelaslah bahawa yang diwajibkan ke atas wanita adalah mengenakan pakaian yang satu (sekeping) yang lurus dari atas hinggalah ke bawah, yakni hingga ke mata kaki. Maksud milhafah/mula’ah (Arab) adalah pakaian yang dikenakan sebagai pakaian luar lalu dilebarkan sehingga ke bawah hingga menutupi kedua mata kakinya. Untuk pakaian atas, wanita disyariatkan/diwajibkan memakai “khimar” iaitu tudung atau apa sahaja bahan/kain yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang leher baju di dada. 

Dalil mengenai wajibnya mengenakan pakaian bahagian atas (khimar/tudung) adalah Firman Allah, “Hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dada mereka” [An Nur:31]. 
Mana-mana wanita yang telah baligh dan melanggar ketetapan Allah ini, maka berdosalah mereka dan layak mendapat seksa Allah di akhirat nanti.  

Pakaian wanita dalam Hayatul Khassah (Kehidupan Khusus/private life) 

hayatul khassah >> keadaan di mana seseorang wanita itu menjalani kehidupannya di rumahnya bersama dengan anggota keluarganya yang lain. 
Adapun cara seorang Muslimah menutupi auratnya di hadapan lelaki ajnabi dalam kehidupan khusus seperti di rumahnya atau di dalam kenderaan peribadi, syara' tidak menentukan bentuk/fesyen pakaian tertentu tetapi membiarkan secara mutlak tanpa menentukannya dan cukup dengan mencantumkan lafaz dalam firman-Nya, “wa laa yubdiina” (“dan janganlah mereka menampakkan”) [Surah An Nur:31

Atau sabda Nabi, “lam yashluh an yura minha” (“tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya”) [HR Abu Dawud]. 

Jadi, pakaian yang menutupi seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan dianggap sudah menutupi, walau bagaimana pun bentuknya. Tetapi ia adalah tertakluk kepada hukum tabarruj (sila lihat perbincangan di bawah).

Berdasarkan hal ini maka setiap bentuk dan jenis pakaian yang dapat menutupi aurat iaitu yang tidak menampakkan aurat dianggap sebagai penutup bagi aurat secara syar'i, tanpa melihat lagi bentuk, jenis, atau fesyennya. Namun demikian syara' telah mensyaratkan dalam berpakaian agar pakaian yang dikenakan dapat menutupi kulit. Jadi pakaian wajib dapat menutupi kulit sehingga warna kulitnya tidak diketahui. Jika tidak demikian, maka tidak dikatakan menutup aurat. Oleh kerana itu apabila kain penutup itu tipis/transparent sehingga nampak warna kulitnya dan dapat diketahui sama ada kulitnya berwarna merah atau coklat, maka kain penutup seperti ini tidak boleh dijadikan penutup aurat dan haram hukum memakainya.

Larangan Bertabarruj 

Adapun dalil tentang larangan bertabarruj adalah juga dari Surah An Nur:60 iaitu 
Firman Allah, “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti [dari haid dan mengandung] yang tiada ingin kawin [lagi], tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak [bermaksud] menampakkan perhiasan (tabarruj), dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [An Nur:60]

Mafhum muwafaqah (yang disepakati) dari ayat ini adalah jika perempuan tua yang telah putus haid haram menampakkan perhiasan iaitu bertabarruj, apatah lagi perempuan yang masih muda, belum putus haid dan berkeinginan berumahtangga, tentulah lebih lagi. Dalil lain ialah, “Dan hendaklah kamu tetap di rumah kamu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliah.” [Al Ahzab:33] 

Dan Hadis Rasulullah  riwayat dari Bazzar dan At Termizi menjelaskan, “Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, setiap kali mereka keluar, syaitan akan memperhatikannya”. 

Abul A’la al Maududi berkata, “Jika kalimat tabarruj dipergunakan kepada kaum wanita, ia bermakna :

(i) wanita yang menunjukkan kecantikan wajahnya, daya tarik tubuhnya kepada lelaki asing (yang bukan mahramnya); 

(ii) wanita yang mendedahkan kecantikan pakaian dan perhiasannya kepada lelaki asing; dan memperlihatkan dirinya, make-upnya, gerak-gerinya dan kemegahannya. Selain memastikan pakaiannya tidak nipis, jarang, longgar, tidak memakai perhiasan yang menarik perhatian lelaki ajnabi, tidak menyerupai pakaian lelaki atau orang kafir/musyrik, pakaiannya yang bukan melambangkan kemegahan, dia juga tidak boleh tampil dengan haruman semerbak. "Sesiapa jua wanita yang memakai minyak wangi kemudian melintasi khalayak ramai dengan tujuan dihidu bau yang dipakainya, maka dia dikira berzina” [hadis dari Abu Musa al-Asy’ari]. 

ukhti-ukhtiku yang dikasihi Allah

Sesungguhnya aurat wanita Islam bukanlah hanya tudung semata-mata sebagaimana yang difahami oleh sebahagian umat Islam sebaliknya apa yang paling penting ialah setiap Muslimah mestilah memahami batasan aurat dalam hayatul khassah (kehidupan khusus) dan hayatul am (kehidupan umum) menurut syarak selain menyedari keharaman bertabarruj atas semua wanita sama ada belum atau telah putus haid. Menutup aurat juga hendaklah didasari dengan iman dan taqwa iaitu mengharapkan keredhaan Allah semata-mata, bukan atas dasar hak asasi atau rutin harian.

al-faqir wa dhoif ilallah,
ukhti nita

MASIHKAH ADA HARAPAN?

         
          Mari kita berhenti sejenak, untuk merenungkan kembali masa lalu kita, apakah ia dihiasi dengan dosa atau kebajikan? Sudah cukupkah bekal kita untuk menghadap-Nya? Dosa-dosa ibarat noda-noda. Ia akan menggelapkan hati kita hingga hati kita semakin sulit memperoleh hidayah-Nya. Dosa-dosa itu, kecil atau besar, akan mempengaruhi hati dan jiwa kita. Dan pengaruhnya, kata Imam Ibnul Qayyim, seperti racun dalam tubuh. Diri kita pada akhirnya semakin berkeinginan kuat berbuat maksiat. Oleh karena itu, janganlah kita pernah meremehkan dosa sekecil apa pun atau kita akan terus menerus melakukan dosa itu!

"Aku adalah seorang yang banyak berbuat maksiat, tapi aku ingin bertaubat kepada-Nya, apakah Tuhan masih mahu menerima dan mengampuniku?"

         Sebanyak apa pun dosa-dosa yang telah kita lakukan, janganlah kita berputus asa mengharap rahmat dan ampunan-Nya. Apabila hati kita sudah mengeras membatu, yang membuat hati kita sukar khusyu' ketika mengingat-Nya, janganlah kita berhenti berharap kepada-Nya.

          Janganlah kita merasa bosan untuk berdiri di depan pintu-Nya, meskipun kkita diusir. Dan janganlah kita berhenti untuk memohon maaf, meskipun permohonan kita itu ditolak. Jika pintu tersebut dibuka untuk orang-orang yang diterima amalnya maka bertingkahlah seperti anak kecil. Hulurkan tangan kita ke arah pintunya itu, dan katakanlah, 'Saya adalah orang miskin, berilah sedekah kepada saya'. Teruslah berusaha, sampai kita merasakan cahaya masuk ke dalam hati kita. Semakin lama cahaya itu semakin besar sehingga membuat dosa-dosa itu tersingkir keluar dari hati kita.

          Harapan sentiasa ada untuk kita selama kita terus berusaha dan tidak berputus asa. Dengan harapan itu, kita akan mengetahui betapa besarnya kasih sayang Allah. Syaikh Said Hawwa dalam bukunya, Jalan Ruhani, mengatakan agar kita terus berzikir sekalipun pada saat awal zikir kita belum merasakan ketenteraman hati. Hingga pada akhirnya nanti, Allah akan memberikan ketenteraman dalam hati kita. Begitupun dengan anjuran Syaikh Muhammad al-Kandahlawy dalam bukunya, Fadhail Amal, berusahalah untuk menangis ketika membaca ayat-ayat al-Quran. Kalau tidak boleh, berpura-puralah menangis. Tangisan itu akan memberikan kitaa kesegaran dan kesegaran akan memberikan kita ketenangan.

          Allah tidak mungkin menjauhi kita selama kita berusaha mendekat diri kepada-Nya. Allah tidak akan mensia-siakan amalan kita kerana Dia menyukai orang-orang yang berbuat baik. Kuatkan tekad kita untuk terus berada di mihrab taubat. Usirlah syaitan dengan amal-amal kita, nescaya mereka akan lari. Allah akan memberikan pencerahan kepada kita dengan kebaikan yang kita lakukan. Sebagaimana Imam al-Ghazali mendapatkannya, setelah sebelumnya bermujahadah di jalan-Nya. Tidakkah kita mengenangnya dalam sejarah sebagai ulama soleh yang hidup dalam ketaatan?

          Wahai sahabatku, berusahalah dan teruslah berusaha walaupun hati kita sekeras batu hari ini. Berusahalah selagi diberi peluang, kerana harapan itu sentiasa ada.




10 Jenis Solat Yang Tidak Diterima Oleh Allah S.W.T

1. 

Rasulullah S.A.W. telah bersabda yang bermaksud : "Sesiapa yang memelihara solat, maka solat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara solat, maka sesungguhnya solat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya." (Tabyinul Mahaarim)
Rasulullah S.A.W telah bersabda bahawa : "10 orang solatnya tidak diterima oleh Allah S.W.T, antaranya :
1. Orang lelaki yang solat sendirian tanpa membaca sesuatu.
2. Orang lelaki yang mengerjakan solat tetapi tidak mengeluarkan zakat.
3. Orang lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.
4. Orang lelaki yang melarikan diri.
5. Orang lelaki yang minum arak tanpa mahu meninggalkannya (Taubat).
6. Orang perempuan yang suaminya marah kepadanya.
7. Orang perempuan yang mengerjakan solat tanpa memakai tudung.
8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.
9. Orang-orang yang suka makan riba'.
10. Orang yang solatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar."
Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud : "Barang siapa yang solatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya solatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah S.W.T dan jauh dari Allah."
Hassan r.a berkata : "Kalau solat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan solat. Dan pada hari kiamat nanti solatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk."
Penulis: myrol92 (luvislam)                     ASNI HITA NOR SUHADA BT HASSAN

10 HARI AWAL BULAN ZULHIJAH


           
  Bulan zulhijah merupakan salah satu ‘ Arba’atun Hurum’ (4 bulan yang memiliki kehormatan). Keberadaan 4 bulan ini telah disebutkan Allah S.W.T  dalam firmanNya, maksudnya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12 bulan. Kesemuanya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara (12 bulan) tersebut terdapat 4 bulan yang memiliki kehormatan…” [At Taubah:36].

Kemudian Rasulullah S.A.W menegaskan dalam sebuah hadis, maksudnya: “… 1 tahun ada 12 bulan. Di antara 12 bulan tersebut terdapat 4 bulan yang memiliki kehormatan. 3 diantaranya tiba berturut-turut iaitu zulaedah, zulhijah dan muharram. Sedangkan yang satu adalah Rejab merupakan bulan pilihan orang dari Mudhar dan terletak antara bulan Jumaada (jamadil akhir) dan Syaa’ban…” [riwayat Bukhari dan Muslim].

Apabila sesuatu itu mendapat kehormatan daripada Allah Yang Maha Mulia, maka kita sebagai hambaNya juga turut memberikan penghormatan kepada bulan tersebut. Barangsiapa mengagungkan atau menghormati sesuatu yang diagungkan Allah, maka dia akan memperoleh pahala dari sisi Allah ta’ala. Allah berfirman, maksudnya: Demikianlah (perintah Allah). Barangsiapa mengagungkan sesuatu yang diagungkan Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabnya (Tuhannya).”  [Al Hajj: 30].

Justeru, kita memuliakan bulan zulhijah kerana Allah telah memuliakannya dan itu adalah tanda kecintaan kita kepada Allah S.W.T.  Bulan  zulhijah tetap memiliki kemuliaan, sekalipun tidak sedikit diantara kaum muslimin yang belum mengerti atau peduli dengan hal ini.

10 Hari Awal Bulan Zulhijah

Diantara hari-hari dalam bulan zulhijah ialah 10 hari awal yang padanya memiliki keutamaan tersendiri. Rasulullah S.A.W bersabda, maksudnya:  “Tidaklah ada hari-hari lain yang amal soleh padanya itu lebih dicintai Allah daripada (amal soleh) di 10 hari (awal zulhijah) ini. ” Lalu mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, sekalipun amal soleh (di hari-hari lain) tadi adalah perang di jalan Allah?” 
Maka baginda menjawab,” Sekalipun amal soleh tersebut adalah perang di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berperang dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikitpun dari jiwa dan harta tersebut.” [Al Irwa’ 953. Lihat Al Bukhari].
-  Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Yang jelasnya sebab keistimewaan 10 hari (awal) zulhijah kerana terkumpul induk ibadah padanya seperti solat, puasa, sedekah dan haji. Sedangkan keistimewaan tersebut tidak terdapat pada hari-hari lain.” [Fathul Bari]

As-Sheikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ketika menerangkan hadis tersebut yang terdapat dalam al-Bukhari, beliau berkata: “Hadits ini sifatnya umum, bahawa seluruh amal soleh di 10 hari tadi dicintai Allah S.W.T dan lebih utama daripada amal soleh di hari-hari lain. Hadis ini mencakupi segenap amal soleh seperti solat, sedekah, membaca al-Qur’an, zikir, puasa dan sebagainya …” [Syarh Bukhari].
Bahkan,  dalam sebuah kenyataan beliau membandingkan bahawa amal soleh di 10 hari (awal) zulhijah itu lebih dicintai Allah daripada amalan soleh di 10 hari akhir ramadhan. Bersamaan dengan itu, manusia telah lalai tentang hal tersebut. [Lihat asy-Syarh Mumti’].
Adapun Sheikhul Islam rahimahullah memperincikan perbandingan tersebut. Dalam pemerinciannya beliau mengatakan:” bahawa 10 hari awal zulhijah lebih utama daripada 10 hari akhir ramadhan. Sedangkan 10 malam akhir ramadhan itu lebih utama daripada 10 malam awal zulhijah”. [Lihat catatan kaki Al I’laam]. Wallahu a’lam

Hanya puasa pada hari ke-10 zulhijah sahaja memang bertepatan dengan hari raya Idul Adha dan puasa di hari Tasyriq (11,12 dan 13 zulhijah), maka kedua-dua puasa tersebut merupakan perkara yang dilarang  mengerjakannya pada saat itu.
Puasa Arafah

Dari Abu Qatadah r.a bahawa Rasulullah S.A.W  pernah ditanya tentang puasa arafah (9 zulhijah), maka baginda menjawab:  “(Puasa tersebut) penghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” [riwayat Muslim].


Para pembaca yang budiman,
semoga Allah merahmati kita semua.  Hadis Abu Qatadah ini menerangkan keutamaan puasa di hari arafah (9 zulhijah) iaitu penghapus dosa yang lalu mahupun dosa yang akan datang. Yang dimaksud penghapus dosa yang akan datang adalah seseorang yang akan berpuasa arafah diberi hidayah untuk meninggalkan dosa atau diberi taufik untuk bertaubat setelah melakukan dosa.
Adapun yang dimaksud dosa dalam hadis Abu Qatadah tersebut adalah dosa kecil, bukan dosa besar. Hal ini kerana dosa besar tidaklah dapat dihapuskan kecuali dengan taubat. Allah Ta’ala berfirman, maksudnya:  “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang atas kamu mengerjakannya, nescaya Kami (Allah) akan menghapuskan dosa-dosa kamu dan akan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (syurga) ” [An Nisaa’:31]

Faedah

1. Diharamkan bagi orang yang akan berkorban untuk memotong rambut,bulu, kuku atau kulit (khitan) pada tubuhnya sejak tanggal 1 -10 zulhijah atau sesudah menyembelih. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah S.A.W,  maksudnya: “Apabila telah masuk 10 hari awal zulhijah, sedangkan salah seorang diantara kamu ingin berkorban maka janganlah kamu memotong rambut, bulu atau kulit pada tubuhmu sedikitpun.” Dalam riwayat lain: “…dan memotong kuku pada tubuhnya.” [H.R Muslim].
Akan tetapi bila ternyata kuku orang yang akan berkorban tadi patah atau ada rambut/bulu yang tumbuh menganggu maka boleh dipotong [Lihat asy-Syarhul Mumti’].
2. Apabila orang yang akan berkorban tersebut ternyata melanggar larangan Nabi S.A.W tadi, maka penyembelihannya tetap sah namun dia berdosa sehingga wajib bertaubat dan tidak ada fidyah (tebusan) baginya. [Lihat asy-Syarh Mumti’ dan Al Mulakhash Al Fiqhi].

3. Jika seseorang itu baru berniat korban di tengah 10 hari awal zulhijah dan ternyata saat itu ia sudah memotong rambut/bulu, kulit atau kukunya maka larangan dalam hadis tadi berlaku sejak dia mulai berniat. [Lihat asy-Syarh Mumti’].
4. Larangan memotong rambut/bulu, kulit atau kuku tidak berlaku bagi anggota keluarga orang yang berkorban tadi atau tidak berlaku pula hal itu bagi orang yang semata-mata ditunjuk mengurus haiwan korban.[Lihat Syarh Bukhari].
Larangan Menzalimi Diri Sendiri di Bulan zulhijah

Dalam salah satu ayat al-Qur’an, Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12 bulan. Kesemuanya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Diantara (12 bulan) tersebut terdapat 4 bulan yang memiliki kehormatan. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi diri kamu sendiri pada bulan-bulan tersebut.”  [At Taubah:36].

Ketika menyampaikan ayat ini dalam salah satu khutbah, as-Sheikh Muhammad bin Soleh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Rab (Tuhan) kita  telah melarang kita untuk menzalimi diri kita sendiri pada bulan-bulan tersebut. Sedangkan larangan dari menzalimi diri sendiri itu berlaku untuk seluruh keadaan dan tempat (kita berada). Namun 4 bulan ini memiliki pengkhususan bahawa perbuatan zalim terhadap diri sendiri pada  4 bulan tersebut keadaannya lebih berat. Atas dasar itu Allah melarang dari membuat zalim pada bulan-bulan tersebut secara tersendiri.

Maka hendaknya kamu menghormati dan mengagungkan bulan-bulan tersebut. Jauhilah perbuatan zalim pada diri sendiri di bulan-bulan ini agar kamu beruntung. Lalu bila kamu bertanya: “Apa maksud perbuatan zalim terhadap diri sendiri?” Jawabnya: perbuatan zalim terhadap diri sendiri bentuknya ada 2 macam:

-1)         meninggalkan perintah Allah
-2)          melakukan larangan Allah

Itu semua adalah perbuatan zalim terhadap diri sendiri. Jiwa itu merupakan amanah untukmu, sehingga kamu wajib menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.Teguhkanlah jiwamu untuk mengerjakan sesuatu yang merupakan kebahagiaan dan kebaikan bagi jiwa tersebut serta jauhkan ia dari sesuatu kesengsaraan dan keburukan baginya.” [Adh-Dhiyaa’ul Laami’ Minal Khuthabil Jawaami’].

Para ulama menyebutkan sebuah kaedah yang menerangkan bahawa amal soleh yang dikerjakan pada waktu atau tempat yang memiliki keutamaan akan dilipatgandakan pahalanya di sisi Allah. Sedangkan amal buruk yang dilakukan pada waktu dan tempat yang memiliki keutamaan akan dilipatgandakan dosanya di sisi Allah.
Natijahnya, sudah selayaknya untuk kita memberikan perhatian terhadap tuntutan agama dari  pekerjaan baik mahupun pekerjaan buruk di manapun kita berada,lebih-lebih lagi di tempat atau waktu yang memiliki kehormatan. Semoga dengan ini kita mendapat keuntungan dan kebahagiaan. Allahlah Dzat yang sentiasa kita mohon pertolongan.
Wallahu a’lam 
Sumber: Redaksi As Sunnah Madiun.wordpress.com
Ibnu Abdullah

Friday, 28 October 2011

Salam ZuLHijjah..Salam Aidiladha


DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENYAYANG LAGI MAHA PEMURAH


Assalamualaikum w.b.t,, buat sahabat-sahabiah yang dikasihi Allah s.w.t...
kaifa halukum? semoga dirahmati Allah s.w.t selalu.

Entry LDP kali ini berkisar tentang bulan Zulhijjah..


§  Kini kita berada dalam bulan yang mulia , yakni bulan Zulhijjah. Allah s.w.t juga telah memuliakan bulan ini berbanding bulan lain. Zulhijjah mengandungi banyak kelebihan.

§  Kemuliaan sepuluh hari ini juga disebutkan dalam surah al-Hajj dengan perintah agar memperbanyakkan menyebut nama Allah pada hari-hari tersebut.

“  dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, nescaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengenderai una yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan pelbagai manfaat bagi mereka, dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak “ Al-Hajj : 27-28

§  Rasulullah s.a.w juga memerintahkan untuk memperbanyakkan tasbih, tahmid, dan takbir pada sepuluh hari tersebut. Dari Ibn Umar r.a. bahawa Nabi s.a.w bersabda maksudnya “ tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal soleh di dalamnya lebih dicintai olehnya daripada hari yang sepuluh(sepuluh hari pertama dari Zulhijjah), perbanyakkan tahlil, takbir dan tahmid di dalamnya.” 
(musnad Imam Ahmad 7/224)


§  Dalam sepuluh hari ini juga terdapat yaumun nahar (hari penyembelihan) yang secara umum menjadi hari teragung dalam setahun. Hari tersebut adalah haji besar yang berkumpul berbagai ketaatan dan amal ibadah padanya yang tidak terkumpul pada hari-hari selainnya.
§  Sesungguhnya siapa yang mendapatkan sepuluh hari bulan Zulhijjah merupakan bahagian dari nikmat Allah yang besar atasnya.

§  Mengenang kembali sirah para nabi, bualn Zulhijjah mengingatkan kita tentang pengorbanan nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Allah s.w.t telah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya iaitu Nabi Ismail. Disebabkan keimanan dan ketaqwaan yang sangat teguh, Nabi Ibrahim patuh arahan Allah s.w.t. Dengan kebesaran Allah, Nabi Ismail telah digantikan dengan seekor kibas ketika penyembelihan berlaku. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar !!!

§  Tidak dilupa juga kisah Nabi Ibrahim yang terpaksa meninggalkan zaujah tercinta , Siti Hajar bersama anak mereka, Nabi Ismail a.s di padang pasir yang tandus. Semua kerana patuh dan taat di atas perintah Allah s.w.t. begitu tinggi keimanan mereka….

§  Hanya orang-orang soleh yang bersegera kepada kebaikan segera untuk menghormatinya dengan semestinya. Dan kewajiban seorang Muslim adalah merasakan nikmat ini, memanfaatkan kesempatan emas ini dengan memberikan perhatian yang lebih, dan menundukkan dirinya menjalankan ketaatan.
§  Sesungguhnya di antara kurnia Allah Taala atas hambaNya adalah menyediakan banyak jalan berbuat baik dan meragamkan kepelbagaian bentuk ketaatan agar semangat seorang Muslim sentiasa thabat, tetap istiqamah menjalankan ibadah kepada Allah.
§  Kullu ‘am wa antum bikhoir..salam aidiladha buat antum.
UKHTI NITA
Al-faqir ilallah



Jom Ziarah

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...